Thursday, March 5, 2009

Kerjasama (APEC)

Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) merupakan forum kerjasama ekonomi dan perdagangan multilateral yang unik, karena merupakan satu-satunya kelompok antar pemerintah di dunia yang berkomitmen untuk mengurangi hambatan perdagangan dan meningkatkan investasi tanpa ada satu perjanjian hukum yang bersifat mengikat. Forum tersebut mendukung dialog dan kesetaraan pendapat di kalangan anggotanya, serta mengambil keputusan berdasarkan konsensus untuk mencapai tujuan bersama.

Sejak berdiri tahun 1989, forum APEC yang beranggotakan 21 ekonomi di kawasan Asia Pasifik mengedepankan program-program yang dapat mendorong terwujudnya suatu kawasan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka guna memenuhi Bogor Goals dalam tiga area yaitu Liberalisasi Perdagangan dan Investasi, Fasilitasi Usaha, serta Kerjasama Ekonomi dan Teknik. Hasil yang dicapai dalam ketiga area tersebut diharapkan memperkuat ekonomi para anggota APEC dan mendatangkan manfaat bagi konsumen di kawasan APEC melalui peningkatan kesempatan pelatihan dan kesempatan kerja, makin beragamnya pilihan yang tersedia di pasar, makin murahnya harga barang dan jasa serta peningkatan akses pasar dunia. Kemajuan yang dicapai oleh para ekonomi dalam upaya memenuhi Bogor Goals tersebut dilaporkan setiap tahun dalam bentuk Rencana Aksi Individu (Individual Action Plan atau IAP) dan Rencana Aksi Kolektif (Collective Action Plan / CAP).

Pada tataran kebijakan, ke-21 pemimpin ekonomi APEC memberikan arah kebijakan berdasarkan rekomendasi strategis dari para menteri APEC dan Dewan Penasihat Bisnis APEC (APEC Business Advisory Council / ABAC). Sedangkan pada tataran kerja, proyek-proyek dan aktivitas APEC dilaksanakan oleh empat komite tingkat tinggi yaitu Komite Kerjasama Ekonomi dan Teknik, Komite Ekonomi, Komite Anggaran dan Manajemen, dan Komite Perdagangan dan Investasi (Committee on Trade and Investment / CTI) di bawah panduan para pejabat tinggi yang mewakili ke-21 ekonomi APEC.

Pelaksanaan kegiatan dan proyek-proyek di masing-masing komite tersebut dibantu oleh unit-unit di bawahnya dalam bentuk Subkomite, Kelompok Pakar, Kelompok Kerja atau Gugus Tugas. Kelompok Jasa (Group on Services atau GOS) yang merupakan salah satu kelompok kerja penting dengan tugas membantu CTI.

1. Rencana Aksi Individu (IAP) dan Rencana Aksi Kolektif (CAP)

Sebagaimana para ekonomi APEC lain, setiap tahunnya Indonesia menyerahkan Rencana Aksi Individu (IAP), yaitu catatan tindakan yang diambil masing-masing ekonomi untuk memenuhi terwujudnya kawasan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka di Asia Pasifik kepada Sekretariat APEC (paling lambat 2010 untuk ekonomi maju dan 2020 untuk ekonomi berkembang). Dalam IAP ini, masing-masing ekonomi dapat menetapkan kerangka waktu dan targetnya dan melaksanakan tindakan-tindakan tersebut secara sukarela dan tidak mengikat.

Sebagaimana telah dirinci dalam Agenda Tindakan Osaka, pelaporan dalam IAP didasarkan pada 15 cakupan permasalahan, antara lain Tarif, Tindakan Non Tarif, Investasi, Prosedur Kepabeanan, Kebijakan Persaingan, Kekayaan Intelektual, dan Jasa.
Dalam Rencana Aksi Individu Sektor Jasa, terdapat 12 sektor jasa plus Jasa Lainnya yang ditinjau, antara lain sektor Jasa Bisnis, Jasa Komunikasi, Jasa Konstruksi dan Rekayasa yang Terkait, Jasa Pendidikan, Jasa Pendidikan, Jasa Keuangan, hingga Jasa Energi.

Rata-rata ekonomi APEC mendapatkan kesempatan untuk ditinjau IAP-nya setiap empat tahun sekali dalam program APEC Peer Review. Proses ini melibatkan tim peninjau formal yang akan mempelajari IAP ekonomi yang pada tahun berikutnya akan memperoleh giliran untuk ditinjau dalam pertemuan APEC Peer Review. Kegiatan ini melibatkan ABAC dan para ahli yang melaksanakan kajian dan analisis secara independen.

Pada tahun 2009, IAP Indonesia kembali akan ditinjau oleh para tim yang beranggotakan para pakar APEC. Untuk persiapan APEC Peer Review terhadap Indonesia di Singapura pada awal 2009, persiapan yang intensif, termasuk dari sektor jasa, terus dilakukan di bawah koordinasi Kantor Menko Perekonomian dalam penyelesaian Full Compilation APEC IAP 2004 – 2008 dan menghadapi kunjungan APEC Services Expert tahun 2008 ini.

2. Komite Perdagangan dan Investasi (CTI)

Saat ini terdapat 7 (tujuh) Model Measures yang masih dalam status pembahasan, dan salah satunya adalah Model Measures untuk bidang Jasa. Penyusunan ketujuh Model Measures termasuk bidang Jasa menjadi bagian dari paket Model Measures yang ditargetkan dapat disetujui pada pertemuan CTI APEC di Peru tahun 2008, mengingat seluruh Chapters of Model Measures akan menjadi deliverables dan akan disahkan oleh para pemimpin ekonomi APEC pada tahun 2008 (sebagaimana dimandatkan dalam Busan Roadmap towards Bogor Goals).

Draft Model Measures untuk Temporary Entry for Business Persons merupakan satu dari ketujuh draft model measure yang masih dalam status pembahasan. Pada pertemuan CTI ini, Kanada menyampaikan revisi draft Model Measures untuk Temporary Entry for Business Persons guna memperoleh masukan dari para ekonomi anggota dan agar dapat segera disahkan pada pertemuan CTI. Kanada sudah memasukkan aspek perlindungan terhadap peran dan fungsi otoritas imigrasi sehingga Indonesia tidak memiliki ganjalan lagi terhadap usulan draft Model Measure tersebut. Sebagaimana halnya Indonesia, sebagian besar ekonomi anggota APEC sudah tidak memiliki ganjalan lagi, dan hanya beberapa ekonomi anggota yakni Thailand, AS, dan China yang masih menyampaikan keberatannya terhadap bagian tertentu dari draft Model Measure yang diusulkan Kanada ini.

3. Kelompok Jasa (GOS)

Filipina dan Indonesia menyampaikan informasi perkembangan terakhir persiapan proyek yang diusulkan kedua negara dan telah disetujui oleh para ekonomi anggota pada pertemuan APEC GOS, CTI dan Budget Management Committee (BMC) tahun 2007.

Pada tahun 2008 Filipina akan melaksanakan tiga proyek Capacity Building, yaitu (1) Workshop on Measurement of International Trade in Services, (2)Training Seminar on Trade in Energy Services, dan (3) Capacity Building Seminar on Transnational Education Services. Sedangkan Indonesia akan menangani satu proyek Capacity Building, yaitu Seminar on the Impact of Liberalization on Trade in Services.

Dalam pertemuan Kelompok Jasa, Indonesia sebagai host economy penyelenggaraan Seminar on the Impact of Liberalization on Trade in Services menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan persiapan penyelenggaraan seminar, yakni : (1) jadwal tentative penyelenggaraan seminar, (2) kandidat penyaji dan konsultan penyelenggaraan seminar, (3) perkembangan studi yang dilakukan Indonesia, (4) opsi-opsi topik seminar, dan (5) proposed actions.

Seminar dijadwalkan akan diselenggarakan pada minggu ke-2 Agustus 2008, namun tidak tertutup kemungkinan jadwal seminar akan dimundurkan pada bulan Oktober 2008 agar tidak tumpang tindih dengan jadwal penyelenggaraan APEC SOM III pada bulan Agustus 2008.

Seminar direncanakan akan mengundang enam penyaji. Salah satu kandidat penyaji, Andrew Stoler, Executive Director of Institute for International Trade, University of Adelaide, dan juga mantan Deputy Director-General WTO telah menyatakan kesediaannya. Selain itu GOS Convenor, Gloria Pasadilla, yang juga merupakan peneliti senior dari lembaga penelitian pemerintah Filipina turut menyatakan kesediaannya untuk menyampaikan presentasi.

Dalam pertemuan, para ekonomi mengusulkan kepada Indonesia beberapa alternatif topik untuk dipresentasikan dalam seminar, yakni (1) barriers/impediments to trade in services and costs imposed by inefficient inputs to both services and non-services sectors, (2) unilateral actions taken by APEC economies on services trade reform and the impact of these reforms to other sectors in the economy, (3) impact of liberalization of trade in services in the development agenda of APEC economies, (4) poverty alleviation, (5) job generation, dan (6) assessment of level of commitment made by APEC economies in the GATS by sector and mode of supply.

Terkait Model Measures untuk Services, para ekonomi anggota APEC belum menemukan kata sepakat mengenai susunan draft Model Measures yang akan diusulkan ke fora CTI, sehingga pembahasannya mengalami kemandekan. Untuk itu GOS Convenor menyampaikan ajakan kepada para ekonomi anggota untuk secara aktif membantu penyelesaian draft model measures untuk Services secara intersessional.









































No comments: